Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Mekah pada
tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. beliau adalah ulama besar yang
pernah sekolah di Madrasah Shaulatiyyah. Beliau adalah
pencetus ide berdirinya Madrasah Darul-Ulũm sekaligus menjadi murid
pertama madrasah itu.Konon sebab tercetusnya ide membangun Madrasah
tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah
Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan
dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120
orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru
didirikan. Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang
baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana
Darul-Ulũm.Dalam sebuah situs(1) dinyatakan bahwa pada tahun 1934,
karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang
Indonesia, guru dan murid ‘Jawah’ telah keluar dari Shaulatiyah dan
mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.Mengenai kesehari-harian
beliau, dari cerita yang saya dengar dari ayah saya, yaitu Ustaz
Sukarnawadi H. Husnuddu’at: “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana,
tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung,
dan sering nongkrong di “Gahwaji” untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)…
tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang
beliau miliki… Yang ingkar kepada beliau hanyalah orang-orang yang lebih
mengutamakan tampang zahir daripada yang bathin…
PUJIAN PARA
ULAMA:Syekh Zakaria Abdullah Bila teman dekat pendiri Nahdlatul Wathan
yaitu Syekh M. Zainuddin pernah berkata, “waktu saya mengajar
Qawa’idul-Fiqhi di Shaulatiyyah, seringkali mendapat kesulitan yang
memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan
kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’idul-Janiah
karangan Syekh Yasin… menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban
dalam mengajar.Seorang ahli Hadits bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari
pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggaan Ulama Haramain dan
sebagai Muhaddits.Doctor Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman (Dosen Dirasatul
‘Ulya Universitas Ummul Qura) di dalam kitab: الجواهر الثمينة في بيان
أدلة عالم المدينة berkata: Syekh Yasin adalah Muhaddits, Faqih, Mudir
Madrasah Darul-Ulum, pengarang banyak kitab dan salah satu Ulama Masjid
Al-Haram…Syekh Umar Abdul-Jabbar berkata didalam surat kabar Al-Bilad
(jumat 24 Dzulqaidah 1379H/ 1960M): “…bahkan yang terbesar dari amal
bakti Syekh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362H. Dimana
dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat
mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan…Assayyid Abdurrahman
bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal sebagai Mufti negeri Murawah Yaman
saat itu, mengarang sebuah syiir yang panjang husus untuk memuji Syekh
Yasin Al-Fadani Berikut saya nukilkan satu bait saja yang berbunyi:
أنت في العلم والمعاني فريد…… وبعقد الفخار أنت الوحيد
“Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakekat, Dibangun orang kejayaan kaulah satu-satunya yang jaya”
Doctor Yusuf Abdurrazzaq sebagai dosen kuliah Ushuluddin Universitas
Al-Azhar cairo juga memuji beliau dengan perkataan dan syiir yang
panjang, saya nukilkan satu bait saja yang bunyinya:
أنت فينا بقية من كرام……لا ترى العين مثلهم إنسانا
“Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat, tak pernah mata melihat manusia seumpama mereka.”
Ustaz Fadhal bin M. bin Iwadh Attarimi-pun berkata:
فيا طالب العلم لب نداء……ياسين وافرح بهذا القرى
“Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin, bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan,”
Doctor Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir dalam kitab Hasyiah
Al-Imam Al-Baijuri Ala Jauharatittauhid yang ditahqiqnya, pada halaman 8
mengaku pernah menerima Ijazah Sanad Hadits Hasyiah tersebut dari Syekh
Yasin yang digelarinya sebagai مسند الدنيا Musnid Addunia…Al-Habib
Assayyid Segaf bin Muhammad Assagaf seorang tokoh pendidik di Hadramaut
(pada tahun 1373H) menceritakan kekaguman beliau terhadap Syekh Yasin,
dan menjulukinya sabagai “Sayuthiyyu Zamanihi”. Beliau juga mengarang
sebuah syiir untuk memuji beliau, berikut saya nukilkan dua bait saja
yang bunyinya sebagai berikut:
لله درك يا ياسين من رجل……أم القرى أنت قاضيها ومفتيهافي كل فن وموضوع لقد كتبا ……يداك ما أثلج الألباب يحديها
“Bagus perbuatanmu hai Yasin engkau seorang tokoh,dari Ummul Qura
engkau Qhadi dan Muftinya.”“Setiap pandan judul ilmu tertulis dengan dua
tanganmu,Alangkah sejuknya akal pikiran rasa terhibur olehnya.”
Assayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki sebagai guru Madrasah Al-Falah dan
Masjid Al-Haram, Syekh M. Mamduh Al-Mishri dan Al-Habib Ali bin Syekh
Balfaqih Siun Hadramaut dan Ulama lainnya, pernah memuji
karangan-karangan beliau…Doctor Yahya Al-Gautsani bercerita, pernah ia
menghadiri majlis Syekh Yasin untuk mengkhatam Sunan Abu Daud. Ketika
itu hadir pula Muhaddits Al-Magrib Syekh Sayyid Abdullah bin Asshiddiq
Al-Gumari dan Syekh Abdussubhan Al-Barmawi dan Syekh Abdul-Fattah
Rawah.H.M.Abrar Dahlan berkata: “yang membuat beliau lepas dari sorotan
publikasi ialah karena ia telah menjadi lambang Ulama Saudi yang “bukan
Wahabi” yang tersisa di Makkah. Walaupun begitu ia diakui juga oleh
ulama Wahabi sebagai Ulama yang bersih dan tidak pernah menyerang kaum
Wahabi… Seorang tokoh agama Najid dari Ibukota Riyadh (Pusat Paham
Wahabi) yaitu Jasim bin Sulaiman Addausari pada tahun 1406H pernah
berkata:
أبلغوا مني سلاما من صبا نجد……ذكيالأبي الفيض فدانيمسند
الوقت بعيد عن نزول……هابط أما لما يعلو فدانيفدى أسر الروايات
فلوتنطق……لقالت: علم الدين فداني
KARYA TULIS & MURID-MURID BELIAU:
Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang
Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu
Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain…Di antara murid-murid
yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau
adalah Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman), Syekh M. Ali Asshabuni
(Syam), Doctor M. Hasan Addimasyqi, Syekh Isma’il Zain Alyamani, Doctor
Ali Jum’ah (Mesir), Syekh Hasan Qathirji, Tuan Guru KH. M. Zaini bin
KH.Abdul-Ghani Al Banjari (Kalimantan) dll…Dan di antara murid-murid
beliau yang di samping mengambil Sanad Hadits, mendapatkan Ijazah ‘Ammah
dan Khasshah, juga diberi izin untuk mengajar di Madrasah Darul-Ulum
adalah: H. Sayyid Hamid Al-Kaff, Dr. Muslim Nasution, H.Ahmad Damanhuri,
H.M.Yusuf Hasyim, H.M. Abrar Dahlan, Dr. Sayyid Aqil Husain Al
Munawwar, Ayah saya sendiri yaitu Ustaz Sukarnawadi KH. Husnuddu’at
dll…Ayah saya pernah bercerita, seseorang bernama H.Abdul-Aziz asal
Jeruwaru Lombok NTB pernah mendatangi Syekh Yasin untuk meminta bai’at,
izin serta restu untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah… ketika
itu Syekh Yasin memberi satu syarat, yaitu, ayah saya harus turut
dibai’at, karena ayah saya di samping menjadi Guru yang lama mengajar di
Madrasah Darul-Ulum, (dari tahun 1978 sampai 1990) juga sebagai salah
satu dari sekian murid yang selalu diberikan bimbingan dan perhatian
khusus… maka yang mendapat izin dari beliau untuk menjadi Mursyid
Thariqat Naqsyabandiyyah yang berasal dari Lombok saat itu hanyalah Ayah
saya dan H.Abdul Aziz…Ayah saya sebagai warga, bahkan tokoh NW (ketika
pulang ke lombok) menceritakan hal itu kepada pendiri Nahdlatul Wathan,
yaitu Syekh M. Zainuddin, dan beliaupun tidak mengingkari hal tersebut,
bahkan beliau merestui, memberikan Ijazah dan doa yang khusus serta
harapan agar di samping itu tetap berjuang membela NW…
KEKERAMATAN BELIAU:Seseorang bernama Zakariyya Thalib asal Syiria pernah
mendatangi rumah Syekh Yasin Pada hari jumat. Ketika Azan jumat
dikumandangkan, Syekh Yasin masih saja di rumah, akhirnya Zakariyya
keluar dan solat di masjid terdekat. Seusai solat jum’at, ia menemui
seorang kawan, Zakariyya pun bercerita pada temannya bahwa Syekh Yasin
ra. tidak solat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata
temannya, “kami sama-sama Syekh sholat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh
Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…H.M.Abrar
Dahlan bercerita, suatu hari Syekh Yasin pernah menyuruh saya membikin
Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakaudari
buah-buahan/rokok teradisi bangsa arab). Setalah saya bikinkan dan syekh
mulai meminum teh, saya keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali,
saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram
dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah
menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari
masjid.Dikisahkan ketika K.H.Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar
dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal
sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, beliau
menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah
jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh
Yasin tahu…? Sedangkan K.H.Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan
kepada siapapun tentang kesulitan ini..!Ketika ayah saya tamat
Darul-Uulum (Aliah), beliau dilarang oleh Syekh Yasin untuk melanjutkan
studinya di Universitas manapun, ayah saya diperintahkan untuk mengabdi
di Darul-Ulum. Sedangkan mata pelajaran yang pernah dipegang oleh ayah
saya sejak tahun 1978 hingga 1990 adalah Hadits, Fiqih, Tauhid, Tarikh
dan Geografi. Di samping itu Syekh Yasin pernah berdo’a untuk ayah saya
agar menjadi seorang penulis… kekeramatan do’a beliau dapat dirasakan
sendiri oleh ayah saya. Walaupun sibuk dalam pekerjaannya sebagai guru
dan pegawai di kantor, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk
menulis. Dan kini tulisan beliau sudah mencapai 24 judul. Yang sudah
dicetak sampai saat ini baru 12 judul saja… Ayah saya berkata pada saya,
“ini berkat do’a restu Syekh Yasin dan Syekh Zainuddin” Oleh karena itu
Ayah saya berpesan agar kami di Mesir, juga mencari seorang guru yang
benar-benar pewaris Nabi, agar mendapatkan barokah do’a restu serta
barokah ilmunya…H.Mukhtaruddin asal Palembang bercerita, pernah ketika
pak Soeharto sedang sakit mata, beliau mengirim satu pesawat khusus
untuk menjemput Syekh Yasin. Ahirnya pak Soehartopun sembuh berkat do’a
beliau. Kisah ini selanjutnya didengar sendiri oleh ayah saya dari Syekh
Yasin.Semoga Allah Subhana Wa Taala. merahmati beliau, amin ya
Rabbal-Alamin….
(*)Ayahanda Ustadz Sukarnawadi H.Husnuddu’at
dan buku “Riwayat Singkat” karangan H.M.Abrar Dahlan adalah rujukan
utama saya dalam penulisan ini…
Selasa, 03 April 2012
Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak Pagatan bin Mufti Haji Muhammad As’ad al Banjari
Mufti Haji Muhammad Arsyad Lamak Pagatan bin Mufti Haji Muhammad As’ad al Banjari
salah satu putra Mufti Haji Muhammad As’ad putra Syarifah putri Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Muhammad Arsyad yang dikenal dengan sebutan Mufti Lamak. Ia termasuk cicit Syeikh Muhammad Arsyad yang mewarisi ilmu-ilmu datuknya dan ayahnya dan menghimpun antara syriat dan hakikat.
Muhammad Arsyad belajar di Tanah suci Mekkah beberapa tahun lamanya, diantara guru-gurunya adalah:
- Asy-Syeikh Ahmad ad-Dimyiati (Mufti Syafi’iyyah)
- Asy-Syeikh Yusuf
- Asy-Syeikh ar-Rahbini
Ketika ia tiba dari menuntut ilmu di kota sumbernya ia kemudian diangkat oleh Sultan Banjar menjadi Mufti di kerajaan Banjar. Selain sebagai ulama ia juga dikenal sebagai seorang pahlawan, seorang ulama yang berani menegakkan yang hak dan memberantas yang batil, kasih sayang terhadap sesamanya, lemah lembut dalam berbicara, pemurah, adil terhadap yang benar dank eras terhadap orang yang berbuat salah, sehingga kasihlah semua lapisan masyarakat dan para pejabat.
Ia selalu menegakkan dan menjalankan faham Ahlus Sunah wal Jamaah dan menegakkan prinsip ‘Menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran’.
Disamping jabatannya sebagai mufti di Kerajaan Banjar, ia juga mengajar di dalam bidang berbagai ilmu agama, diantara muridnya adalah Sultan Adam al-Watsiq Billah.
Mufti Haji Muhammad Arsyad, pernah menikah dengan beberapa orang perempuan, yaitu:
- Tilamah, di muara sungai pamintangan, namun tak mendapatkan keturunan.
- Kemudian ia menikah lagi di sungai karias dengan seorang perempuan cantik yang bernama Tuan Inur (saudara Anang Ja’far ayahnya H. Muhammad Thayyib, Lok Bangkal, seorang berilmu lagi mulia), juga tidak memperoleh keturunan.
- Kemudian ia menikah lagi di Balimau, kandangan dengan Tuan Rahimah, juga tidak memperoleh keturunan.
- Kemudian ia menikah di Martapura dengan ummu Salamah binti Mufti H. Ahmad, dari istri putri seorang ulama besar inilah ia mendapat tujuh orang anak, tiga orang putra dan empat orang putri, diantaranya:
Hafsah
Haji Utsman, seorang yang berilmu lagi mulia
Khadijah
Sa’idah
KH. Muhammad Hasyiem
Shafura (istri Datu Landak)
H. Abdul Muthalib
Mufti haji Muhammad Arsyad memiliki sifat-sifat kemuliaan, seperti pemurah, pengasih, lemah lembut, sabar dan seorang ulama yang wara’ sehingga ia selalu dikasihi oleh saudara-saudaranya, terutama adiknya yang bernama Haji Sa’duddin, Kubah Taniran, Kandangan. Sejak wafatnya Mufti Haji Muhammad Arsyad sang adikpun jarang sekali pulang ke Martapura, karena ia merasa benar-benar kehilangan atas kepergian kakak tercintanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin sultan Adam, yang memerintah sekitar tahun 1857-1859 M atau sekitar tahun 1274-1276 H. Mufti Muhammad Arsyad yang juga disebut Tuan Mufti Lamak bercita-cita akan pergi ke tanah suci mekkahuntuk menunaikan ibadah haji, sebelum ia pergi maka lebih dahulu ia mengunjungi kakak tertuanya, yakni H. Abu Thalhah, seorang yang sangat berilmu, yang ketika itu masih menetap di Pagatan, sebagai perwujudan sifat-sifatnya yang selalu menghormati dan memuliakan saudara tuanya dan rasa kasih sayangnya terhadap kakak dan sesamany. Namun, setibanya ia di Pagatan, ia mendapat sakit yang membawanya sampai meninggal dunia dan akhirnya di makamkan di Pagatan, Kota Baru.
Menurut catatan H. Ismail Khatib, seorang yang berilmu dan mulia. Tuan Mufti Haji Muhamad Arsyad, berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu tiga likur hari bulan Rabiul Awwal 1275 H. Di masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, atau kira-kira 48 tahun setelah wafatnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang wafat 6 Syawwal 1227 H.
Makamnya telah dibuatkan kubah oleh Mufti Indragiri, Riau, KH.Abdur Rahman Shiddiq, sapat, selaku seorang cucu yang berbakti kepada sang kakak tercinta. Kemudian dipugar atau direnovasi kembali dan menjadi bangunan permanen oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kota Baru.
salah satu putra Mufti Haji Muhammad As’ad putra Syarifah putri Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Muhammad Arsyad yang dikenal dengan sebutan Mufti Lamak. Ia termasuk cicit Syeikh Muhammad Arsyad yang mewarisi ilmu-ilmu datuknya dan ayahnya dan menghimpun antara syriat dan hakikat.
Muhammad Arsyad belajar di Tanah suci Mekkah beberapa tahun lamanya, diantara guru-gurunya adalah:
- Asy-Syeikh Ahmad ad-Dimyiati (Mufti Syafi’iyyah)
- Asy-Syeikh Yusuf
- Asy-Syeikh ar-Rahbini
Ketika ia tiba dari menuntut ilmu di kota sumbernya ia kemudian diangkat oleh Sultan Banjar menjadi Mufti di kerajaan Banjar. Selain sebagai ulama ia juga dikenal sebagai seorang pahlawan, seorang ulama yang berani menegakkan yang hak dan memberantas yang batil, kasih sayang terhadap sesamanya, lemah lembut dalam berbicara, pemurah, adil terhadap yang benar dank eras terhadap orang yang berbuat salah, sehingga kasihlah semua lapisan masyarakat dan para pejabat.
Ia selalu menegakkan dan menjalankan faham Ahlus Sunah wal Jamaah dan menegakkan prinsip ‘Menyerukan untuk berbuat kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran’.
Disamping jabatannya sebagai mufti di Kerajaan Banjar, ia juga mengajar di dalam bidang berbagai ilmu agama, diantara muridnya adalah Sultan Adam al-Watsiq Billah.
Mufti Haji Muhammad Arsyad, pernah menikah dengan beberapa orang perempuan, yaitu:
- Tilamah, di muara sungai pamintangan, namun tak mendapatkan keturunan.
- Kemudian ia menikah lagi di sungai karias dengan seorang perempuan cantik yang bernama Tuan Inur (saudara Anang Ja’far ayahnya H. Muhammad Thayyib, Lok Bangkal, seorang berilmu lagi mulia), juga tidak memperoleh keturunan.
- Kemudian ia menikah lagi di Balimau, kandangan dengan Tuan Rahimah, juga tidak memperoleh keturunan.
- Kemudian ia menikah di Martapura dengan ummu Salamah binti Mufti H. Ahmad, dari istri putri seorang ulama besar inilah ia mendapat tujuh orang anak, tiga orang putra dan empat orang putri, diantaranya:
Hafsah
Haji Utsman, seorang yang berilmu lagi mulia
Khadijah
Sa’idah
KH. Muhammad Hasyiem
Shafura (istri Datu Landak)
H. Abdul Muthalib
Mufti haji Muhammad Arsyad memiliki sifat-sifat kemuliaan, seperti pemurah, pengasih, lemah lembut, sabar dan seorang ulama yang wara’ sehingga ia selalu dikasihi oleh saudara-saudaranya, terutama adiknya yang bernama Haji Sa’duddin, Kubah Taniran, Kandangan. Sejak wafatnya Mufti Haji Muhammad Arsyad sang adikpun jarang sekali pulang ke Martapura, karena ia merasa benar-benar kehilangan atas kepergian kakak tercintanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin sultan Adam, yang memerintah sekitar tahun 1857-1859 M atau sekitar tahun 1274-1276 H. Mufti Muhammad Arsyad yang juga disebut Tuan Mufti Lamak bercita-cita akan pergi ke tanah suci mekkahuntuk menunaikan ibadah haji, sebelum ia pergi maka lebih dahulu ia mengunjungi kakak tertuanya, yakni H. Abu Thalhah, seorang yang sangat berilmu, yang ketika itu masih menetap di Pagatan, sebagai perwujudan sifat-sifatnya yang selalu menghormati dan memuliakan saudara tuanya dan rasa kasih sayangnya terhadap kakak dan sesamany. Namun, setibanya ia di Pagatan, ia mendapat sakit yang membawanya sampai meninggal dunia dan akhirnya di makamkan di Pagatan, Kota Baru.
Menurut catatan H. Ismail Khatib, seorang yang berilmu dan mulia. Tuan Mufti Haji Muhamad Arsyad, berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu tiga likur hari bulan Rabiul Awwal 1275 H. Di masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, atau kira-kira 48 tahun setelah wafatnya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang wafat 6 Syawwal 1227 H.
Makamnya telah dibuatkan kubah oleh Mufti Indragiri, Riau, KH.Abdur Rahman Shiddiq, sapat, selaku seorang cucu yang berbakti kepada sang kakak tercinta. Kemudian dipugar atau direnovasi kembali dan menjadi bangunan permanen oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Kota Baru.
Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi
Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi Solo (Putra Habib Ali Shohibul Simthud Duror)
Betapa sedihnya Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Pemuda berusia 22 tahun itu ditinggal wafat ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al- Habsyi, Sohibul Simtud Duror, pada tahun 13331 H / 1913 M. kota Seiyun, Hadramaut, yaman, itu terasa asing bagi ayah satu anak ini, Habib Alwi adalah anak bungsu, paling disayang Habib Ali. Begitu juga, Habib Alwi pun begitu menyayangi ayahnya, sehingga dirinya bagaikan layangan yang putus benangnya.
Hababah Khodijah, kakak sulungnya, yang terpaut 20 tahun, merasakan kesedihan adiknya yang telah diasuhnya sejak kecil. Daripada hidup resah dan gelisah, oleh putrid Habib Ali Al-Habsyi, Habib Alwi disarankan untuk berwisata hati ke Jawa, menemui kakaknya yang lain, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi di Betawi.Habib Alwi pergi ke Jawa ditemani Salmin Douman, antri senior Habib Ali Al-Habsyi, sekaligus sebagai pengawal. Beliau meninggalkan istri yang masih mengandung di Seiyun, yang tak lama kemudian melahirkan, dan anaknya diberi nama Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.
Kabar kedatangan Habib Alwi telah menyebar di Jawa, karena itulah banyak murid ayahnya ( Habib Ali Al-Habsyi ) di Jawa menyambutnya, dan menanti kedatangannya di kota masing-masing.
Pertama kali Habib Alwi tinggal di Betawi beberapa saat. Kemudian beliau ke Garut, Jawa Barat, menikah lagi. Dari wanita ini lahir Habib Anis dan dua adik perempuan. Lalu, beliau pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau menikah lagi, dianugerahi banyak anak, dan yang sekarang masih hidup adalah Habib Abdullah dan Fathimah.
Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jatiwangi, Jawa Barat, dan menikah lagi dengan wanita setempat. Dari perkawinan itu, beliau memilki enam anak, tiga lelaki dan tiga perempuan. Di antaranya adalah Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi serta Habib Fadhil bin Alwi yang meninggal pada akhir Agustus 2006.
Akhirnya, Habib Alwi pindah ke Solo, Jawa Tengah. Pertama kali, Habib Alwi sekeluarga tinggal di Kampung Gading, di tempat seorang raden dari Kasunan Surakarta. Kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari Habib Muhammad Al-Aydrus ( kakek Habib Musthafa bin Abdullah Al-Aydrus, Pemimpim Majlis Dzikir Ratib Syamsisy Syumus ), seorang juragan tenun dari kota Solo, di Kampung Gurawan.
Wakaf itu dengan ketentuan : didirikan masjid, rumah, dan halaman di antara masjid dan rumah. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1354 H / 1934 M. Habib Ja'far Syaikhan Assegaf mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh itu dengan sebuah ayat 14 surah Shaf ( 61 ) di dalam al-Qur'an, yang huruf-hurufnya berjumlah 1354. ayat tyersebut, menurut Habib Ja'far yang meninggal di Pasuruan 1374 H / 1954 M ini, sebagai pertanda bahwa Habib Alwi akan terkenal dan menjadi khalifah pengganti ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.Sementara rumah di Gurawan No.6 itu lebih dahulu berdiri dan halaman yang ada kini disambung dengan masjid dan rumah menjadi ruang Zawiyah ( pesantren ) dan sering digunakan untuk kegiatan haul, Maulid, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Struktur ruang Zawiyah ini seperti Raudhah, taman surga di dinia, yaitu ruang antara kamar Nabi saw dan masjid Nabawi. Sekarang bangunan bertambah dengan bangunan empat lantai yang menghdap ke Jln. Kapten Mulyadi 228, yang oleh sementara kalangan disebut Gedung Al-Habsyi.
Tentang rumah Habib Alwi di Solo, Syekh Umar bin Ahmad Baraja', seorang giru di Gresik, pernah berujar, rumahnya di Solo seakan Ka'bah, yang dikinjungi banyak orang dari berbagai daerah. Ucapan ulama ini benar. Sekarang, setiap hari rumah dan masjidnya dikinjungi para habib dan muhibbin dari berbagai kota untuk tabarukan atau mengaji.
Habib Alwi telah memantapkan kemaqamannya di Solo. Masjid Riyadh dan Zawiyahnya semakin ramai dikunjungi orang. Beliau tidak saja mengajar dan menyelemggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana dulu ayahnya di Seiyun, Hadramaut. Namun beliau juga memberikan terapi jiwa kepada orang-orang yang hatinya mendapat penyakit.
Ketika di Surabaya, bertempat di rumah Salim bin Ubaid, diceritakan Habib Alwi didatangi seseorang dari keluarga Chaneman, yang mengeluhkan keadaan penyakit ayahnya dan minta doa' dari Habib Alwi. Beliau mendoa'kan dan menganjurkannya untuk memakai cincin yang terbuat dari tanduk kanan kerbau yang berkulit merah. "Insya Allah. Penyakitmu akan sembuh." Katanya waktu itu.
Tahun 1952, Habib Alwi melawat ke kota-kota di Jawa Timur. Kunjungannya disertai Sayyid Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus, Habib Abdul Qadir bin Umar Mulchela ( ayah Habib Husein Mulachela ), Syekh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin Abdul Deqil dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf ( ayah Habib tayfiq Assegaf, Pasuruan ), yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yang diterjemahkan Habib Novel bin Muhammad Al-Aydrus berjudul Menjemput Amanah.
Perjalanan rombongan Habib Alwi ke Jawa Timur itu berangkat tahun 1952. tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ( 1285-1376 H / 1865-1956 M ) di Gresik. Namun beliau juga bertemu Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad ( 1303-1376 H / 1883-1956 M ) di Jombang, Habib Ja'far bin Syeikhan ( 1289-1374 H / 1878-1954 M ) di Pasuruan dan ulama lainnya.
Setahun setelah kepergiannya ke Jawa Timur, pada tahun 1953 Habib Alwi pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat. Seperti tahu bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo. Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein, harus mengikuti amanah ayahnya.
"Sebetulnya waktu itu Habib Anis belum siap untuk menggantikan peran ayahnya. Tetapi karena menjunjung amanah, wasiat itu diterimanya. Jadi dia adalah anak muda yang berpakaian tua." Tutur Habib Ali Al-Habsyi, adik Habib Anis dari lain ibu.
Akhirnya Habib Alwi meninggal pada bulan Rabi'ul awal 1373 H / 27 November 1953. pihak keluarga membuka tas-tas yang dibawa oleh Habib Alwi ketika berangkat ke Palembang. Ternyata satu koper ketika dibuka berisi peralatan merawat mayat, seperti kain mori, wangi-wangian, abun dan lainnya. Agaknya Habib Alwi telah diberi tanda oleh Allah swt bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat.
Namun ada masalah dengan soal pemakaman, Habib Alwi berwasiat supaya dimakamkan di sebelah selatan Masjid Riyadh Solo.sedang waktu itu tidak ada penerbangan komersil dari Palembang ke Solo. Karena itulah, pihak keluarga menghubungi AURI untuk memberikan fasilitas penerbangan pesawat buat membawa jenazah Habib Alwi ke Solo. Ternyata banyak murid Habib Alwi yang bertugas di Angkatan Udara, sehingga beliau mendapatkan fasilitas angkutan udara. Karena itu jenazah disholatkan di tiga tempat : Palembang, Jakarta dan Solo.Ada peristiwa unik yang mungkin baru pertama kali di Indonesia, bahkan di Dunia. Para kerabat dan Kru pesawat terbang AURI membacakan Tahlil di udara.
Masalah lain timbul lagi. Pada tahun itu, sulit mendapatkan izin memakamkan seseorang di lahan pribadi, seperti halaman Masjid Riyadh. Namun berkat kegigihan Yuslam Badres, yang kala itu menjadi anggota DPRD kota Solo, izin pun bisa didapat, khusus dari gubernur Jawa tengah, sehingga jenazah Habib Alwi dikubur di selatan Masjid Riyadh.
Makamnya sekarang banyak di ziarahi para Habib dan Mihibbin yang datang dari berbagai kota. Beliau dikenang serbagai ulama yang penuh teladan, tangannya tidak lepas dari tasbih, juga dikenal sangat menghormati tamu yang datang kepadanya. Habib Alwi pin tidak pernah disusahkan oleh harta benda. Meski tidak kaya, ketika mengadakan acara haul atau Maulidan, ada saja uang yang didapatnya. Allah swt telah mencukupi rezekinya dari tempat yang tidak terduga.(fy)
Sumber : Majalah Al-Kisah No.23 / Tahun IV / 6-19 November 2006
Betapa sedihnya Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Pemuda berusia 22 tahun itu ditinggal wafat ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al- Habsyi, Sohibul Simtud Duror, pada tahun 13331 H / 1913 M. kota Seiyun, Hadramaut, yaman, itu terasa asing bagi ayah satu anak ini, Habib Alwi adalah anak bungsu, paling disayang Habib Ali. Begitu juga, Habib Alwi pun begitu menyayangi ayahnya, sehingga dirinya bagaikan layangan yang putus benangnya.
Hababah Khodijah, kakak sulungnya, yang terpaut 20 tahun, merasakan kesedihan adiknya yang telah diasuhnya sejak kecil. Daripada hidup resah dan gelisah, oleh putrid Habib Ali Al-Habsyi, Habib Alwi disarankan untuk berwisata hati ke Jawa, menemui kakaknya yang lain, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi di Betawi.Habib Alwi pergi ke Jawa ditemani Salmin Douman, antri senior Habib Ali Al-Habsyi, sekaligus sebagai pengawal. Beliau meninggalkan istri yang masih mengandung di Seiyun, yang tak lama kemudian melahirkan, dan anaknya diberi nama Ahmad bin Alwi Al-Habsyi.
Kabar kedatangan Habib Alwi telah menyebar di Jawa, karena itulah banyak murid ayahnya ( Habib Ali Al-Habsyi ) di Jawa menyambutnya, dan menanti kedatangannya di kota masing-masing.
Pertama kali Habib Alwi tinggal di Betawi beberapa saat. Kemudian beliau ke Garut, Jawa Barat, menikah lagi. Dari wanita ini lahir Habib Anis dan dua adik perempuan. Lalu, beliau pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Disana beliau menikah lagi, dianugerahi banyak anak, dan yang sekarang masih hidup adalah Habib Abdullah dan Fathimah.
Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jatiwangi, Jawa Barat, dan menikah lagi dengan wanita setempat. Dari perkawinan itu, beliau memilki enam anak, tiga lelaki dan tiga perempuan. Di antaranya adalah Habib Ali bin Alwi Al-Habsyi serta Habib Fadhil bin Alwi yang meninggal pada akhir Agustus 2006.
Akhirnya, Habib Alwi pindah ke Solo, Jawa Tengah. Pertama kali, Habib Alwi sekeluarga tinggal di Kampung Gading, di tempat seorang raden dari Kasunan Surakarta. Kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari Habib Muhammad Al-Aydrus ( kakek Habib Musthafa bin Abdullah Al-Aydrus, Pemimpim Majlis Dzikir Ratib Syamsisy Syumus ), seorang juragan tenun dari kota Solo, di Kampung Gurawan.
Wakaf itu dengan ketentuan : didirikan masjid, rumah, dan halaman di antara masjid dan rumah. Masjid tersebut didirikan pada tahun 1354 H / 1934 M. Habib Ja'far Syaikhan Assegaf mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh itu dengan sebuah ayat 14 surah Shaf ( 61 ) di dalam al-Qur'an, yang huruf-hurufnya berjumlah 1354. ayat tyersebut, menurut Habib Ja'far yang meninggal di Pasuruan 1374 H / 1954 M ini, sebagai pertanda bahwa Habib Alwi akan terkenal dan menjadi khalifah pengganti ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.Sementara rumah di Gurawan No.6 itu lebih dahulu berdiri dan halaman yang ada kini disambung dengan masjid dan rumah menjadi ruang Zawiyah ( pesantren ) dan sering digunakan untuk kegiatan haul, Maulid, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Struktur ruang Zawiyah ini seperti Raudhah, taman surga di dinia, yaitu ruang antara kamar Nabi saw dan masjid Nabawi. Sekarang bangunan bertambah dengan bangunan empat lantai yang menghdap ke Jln. Kapten Mulyadi 228, yang oleh sementara kalangan disebut Gedung Al-Habsyi.
Tentang rumah Habib Alwi di Solo, Syekh Umar bin Ahmad Baraja', seorang giru di Gresik, pernah berujar, rumahnya di Solo seakan Ka'bah, yang dikinjungi banyak orang dari berbagai daerah. Ucapan ulama ini benar. Sekarang, setiap hari rumah dan masjidnya dikinjungi para habib dan muhibbin dari berbagai kota untuk tabarukan atau mengaji.
Habib Alwi telah memantapkan kemaqamannya di Solo. Masjid Riyadh dan Zawiyahnya semakin ramai dikunjungi orang. Beliau tidak saja mengajar dan menyelemggarakan kegiatan keagamaan sebagaimana dulu ayahnya di Seiyun, Hadramaut. Namun beliau juga memberikan terapi jiwa kepada orang-orang yang hatinya mendapat penyakit.
Ketika di Surabaya, bertempat di rumah Salim bin Ubaid, diceritakan Habib Alwi didatangi seseorang dari keluarga Chaneman, yang mengeluhkan keadaan penyakit ayahnya dan minta doa' dari Habib Alwi. Beliau mendoa'kan dan menganjurkannya untuk memakai cincin yang terbuat dari tanduk kanan kerbau yang berkulit merah. "Insya Allah. Penyakitmu akan sembuh." Katanya waktu itu.
Tahun 1952, Habib Alwi melawat ke kota-kota di Jawa Timur. Kunjungannya disertai Sayyid Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus, Habib Abdul Qadir bin Umar Mulchela ( ayah Habib Husein Mulachela ), Syekh Hadi bin Muhammad Makarim, Ahmad bin Abdul Deqil dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf ( ayah Habib tayfiq Assegaf, Pasuruan ), yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku yang diterjemahkan Habib Novel bin Muhammad Al-Aydrus berjudul Menjemput Amanah.
Perjalanan rombongan Habib Alwi ke Jawa Timur itu berangkat tahun 1952. tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengunjungi Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ( 1285-1376 H / 1865-1956 M ) di Gresik. Namun beliau juga bertemu Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad ( 1303-1376 H / 1883-1956 M ) di Jombang, Habib Ja'far bin Syeikhan ( 1289-1374 H / 1878-1954 M ) di Pasuruan dan ulama lainnya.
Setahun setelah kepergiannya ke Jawa Timur, pada tahun 1953 Habib Alwi pergi ke kota Palembang untuk menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, di kota itu, beliau menderita sakit beberapa saat. Seperti tahu bahwa saat kematiannya semakin dekat, beliau memanggil Habib Anis, anak lelaki tertua yang berada di Solo. Dalam pertemuan itu beliau menyerahkan jubahnya dan berwasiat untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh di Solo. Habib Anis, yang kala itu berusia 23 tahun, dan baru berputra satu orang, yaitu Habib Husein, harus mengikuti amanah ayahnya.
"Sebetulnya waktu itu Habib Anis belum siap untuk menggantikan peran ayahnya. Tetapi karena menjunjung amanah, wasiat itu diterimanya. Jadi dia adalah anak muda yang berpakaian tua." Tutur Habib Ali Al-Habsyi, adik Habib Anis dari lain ibu.
Akhirnya Habib Alwi meninggal pada bulan Rabi'ul awal 1373 H / 27 November 1953. pihak keluarga membuka tas-tas yang dibawa oleh Habib Alwi ketika berangkat ke Palembang. Ternyata satu koper ketika dibuka berisi peralatan merawat mayat, seperti kain mori, wangi-wangian, abun dan lainnya. Agaknya Habib Alwi telah diberi tanda oleh Allah swt bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat.
Namun ada masalah dengan soal pemakaman, Habib Alwi berwasiat supaya dimakamkan di sebelah selatan Masjid Riyadh Solo.sedang waktu itu tidak ada penerbangan komersil dari Palembang ke Solo. Karena itulah, pihak keluarga menghubungi AURI untuk memberikan fasilitas penerbangan pesawat buat membawa jenazah Habib Alwi ke Solo. Ternyata banyak murid Habib Alwi yang bertugas di Angkatan Udara, sehingga beliau mendapatkan fasilitas angkutan udara. Karena itu jenazah disholatkan di tiga tempat : Palembang, Jakarta dan Solo.Ada peristiwa unik yang mungkin baru pertama kali di Indonesia, bahkan di Dunia. Para kerabat dan Kru pesawat terbang AURI membacakan Tahlil di udara.
Masalah lain timbul lagi. Pada tahun itu, sulit mendapatkan izin memakamkan seseorang di lahan pribadi, seperti halaman Masjid Riyadh. Namun berkat kegigihan Yuslam Badres, yang kala itu menjadi anggota DPRD kota Solo, izin pun bisa didapat, khusus dari gubernur Jawa tengah, sehingga jenazah Habib Alwi dikubur di selatan Masjid Riyadh.
Makamnya sekarang banyak di ziarahi para Habib dan Mihibbin yang datang dari berbagai kota. Beliau dikenang serbagai ulama yang penuh teladan, tangannya tidak lepas dari tasbih, juga dikenal sangat menghormati tamu yang datang kepadanya. Habib Alwi pin tidak pernah disusahkan oleh harta benda. Meski tidak kaya, ketika mengadakan acara haul atau Maulidan, ada saja uang yang didapatnya. Allah swt telah mencukupi rezekinya dari tempat yang tidak terduga.(fy)
Sumber : Majalah Al-Kisah No.23 / Tahun IV / 6-19 November 2006
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh )
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh )
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.
Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag.
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.
Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya.
Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.
Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.
Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.
Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin
Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.
Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.
Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.
Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.
Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag.
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.
Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya.
Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.
Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.
Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.
Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin
Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.
Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.
Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.
Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia
KH.Zainal Ilmi Al-Banjari
KH.Zainal Ilmi Al-Banjari
KH.Zainal Ilmi dilahirkan pada malam sabtu jam 4.30 subuh tanggal 7 Rabiul Awwal 1304 H di desa Dalam Pagar Martapura ayahnya adalah Haji Abdus Shamad bin KH.muhammad Said Wali putra Aminah Binti KH.Syahabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari,ibunya bernama Hj.Qamariyyah,masa kanak kanak sampai tumbuh menjadi dewasa beliau berlimpahan ilmu dari keluarganya,tidak pernah beliau melakukan pekerjaan yang sia sia,sangat sopan santun,penyayang dan ber akhlaqul karimah,beliau selalu mengisi kesehariannya dengan belajar dan beribadah,memelihara waktu dan mengerjakan yang sunat sunat,menghindarkan diri dari perbuatan syubhat lebih lebih yang dilarang agama apalagi yang haram,guru guru beliau adalah para ulama dan wali dijamannya,dari masa mudanya inilah beliau mempersiapkan diri menjadi seorang ulama terkemuka.diantara para ulama yang menjadi gurunya adalah :
1.KH.Abdus Shamad yaitu orang tua beliau sendiri mula mula belajar ilmu arabiyyah,fiqih dan hadist selama kurang lebih 6 tahun
2.menuntut Munazharah yang lamanya kira kira selahzhah (sesaat)kepada KH.Muhammad Amin bin Qadhi H.Mahmud Pesayangan Martapura
3.Syeikh Abdurrahman Muda
4.KH.Abbas bin mufti H.Abdul Jalil
5.KH.Abdullah (led rad agama) bin KH.Muhammad Shaleh
6.Menuntut Munazharah pula selama Selahzhah (sesaat)kepada KH.KH.Muhammad Ali bin Abdullah al-Banjari
7.KH.Khalid Dalam Pagar Martapura
8.KH.Ahmad Nawawi Dalam Pagar Martapura
9.KH.Ismail Dalam Pagar Martapura ayah dari KH.Abd.Rahman Ismail mantan kepala DEPAG Kab.Banjar
10.KH.Ahmad Wali Kuin Banjarmasin (murid Haji Masaid Wali kakek dari guru KH.Zainal Ilmi
Dengan disertai pesan guru gurunya tersebut yaitu "Jika kamu berkehendak mula mula masuk fan ilmu nahwu atau fan fiqih atau fan usul yaitu mesti lebih dahulu mengetahui mabadi yang 'asyarah serta ta'rifnya supaya landang penglihatanmu."
menurut suatu riwayat beliau adalah Khalifah dari Mufti Syeikh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari Sapat Indra Giri Riau,karena ketika Mufti Syeikh Abdurrahman Shiddiq hendak berangkat ke Tembilahan riau beliau ditanya oleh seorang yang tua di kampung Dalam Pagar .
"siapakah pengganti guru dikampung ini kalau guru berangkat nanti ?.."
"Anang Ilmi penggantiku " jawab Tuan Guru Sapat sambil menepuk bahu Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,maka terperanjatlah beliau sembari menunduk mendengar keputusan sekaligus amanah dari Syeikh Abdurrahman Shiddiq kepadanya,hingga sejak itu Tuan Guru Haji zainal Ilmi selalu menunduk.
beliau mempunyai perawakan gemuk pendek yang menggambarkan bahwa iya mempunya himmah (semangat) dan cita cita yang tinggi ,tabah hati dan tawakkal bersipat akhlakul karimah,tawadhu,berjiwa sosial suka menolong faqir miskin wara' serta pemurah,selama hidupnya banyak yang mendapat santunan dari beliau termasuk janda janda tua,hal ini tidak diketahui orang kecuali orang orang kepercayaannya,baru setelah beliau wafat hal ini diketahui orang banyak.
diantara keramat beliau ...suatu saat beliau sedang mengajar dirumahnya,pada waktu itu banyak muridnya yang hadir,tiba tiba beliau mengatakan "kita berhenti sebentar".dan murid muridnya menyaksikan sang guru dalam kemasygulan,kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan melepaskan pakaiannya,lalu beliau mengambil dua buah timba untuk diisi air disungai didepan rumahnya,air tersebut kemudian dibawanya kejalan raya dan terus disiramkan beliau satu timba kesebelah kanan satu timbanya lagi kesebelah kiri,selesai melakukan hal tersebut beliau kemudian masuk lagi kedalam rumah dan bertemu dengan ibundanya
ibundanya pun lantas berkata "mengapa kamu siramkan air itu kejalanan,sedangkan kamu susah susah mengambilnya dari sungai,lebih bermanfaat air itu untuk mengisi tempat air yang kosong 'kata ibunya dengan penuh keheranan
kemudian beliau menjawab "kita menolong orang yang kesusahan bu yaitu orang yang sedang kebakaran
lalu ibundanya berkata lagi" apakah kebakaran ditengah jalanan.." hal tersebut diucapkan ibundanya beberapa kali,berselang 3 hari setelah kejadian yang diluar akal tersebut datanglah seseorang berkunjung kepada beliau dan berkata "guru kami sangat berterima kasih kepada guru ,dikampung kami terjadi kebakaran dan setelah membawa korban beberapa rumah penduduk kemudian ulun (saya) bertawasul dengan meminta pertolongan kepada guru,setelah itu guru saya lihat datang memberikan pertolongan denagn membawa dua buah timba dan menyiram kan air ke api tersebut,hingga api tersebut padam seketika,dan inilah keperluan saya ziarah kesini,sekedar menyampaikan ucapan terima kasih atas pertolongan guru kepada kami di kampung Sungai salai Margasari Rantau'' .
dilain waktu ada seorang desa ,yang mempunyai kebun durian,namun belum pernah menghasilkan buah,petani tersebut rupanya mempunyai hajat apabila kebun durian nya tersebut mengeluarkan buah maka akan diberikan kepada Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,dan ternyata pada tahun tersebut berbuah 3 buah saja,si petani tersebut tadi kebetulan tidak ada kesempatan memberikan secara langsung buah durian tersebut kepada beliau,maka ia terpaksa menitipkan durian tersebut kepada tetangganya yang kebetulan akan bersilaturrahmi kepada Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,dalam perjalanan orang yang di amanahi tadi rupanya tidak berpikir panjang lalu dibelahnya sebuah dan dimakannya,sesampainya di martapura kemudian ia membeli sebuah durian sebagai ganti durian yang dimakannya,tak lama setelah itu barulah ia ketempat Tuan Guru H.Zainal Ilmi dan langsung menyerahkan ke 3 durian tadi,oleh Tuan Guru dua buah durian beliau ambil kemudian durian satu nya beliau belah dan beliau suguhkan kepada tamunya sambil berkelakar beliau berkata ," bagaimana rasanya dengan durian yang kamu belahi dan kamu makan dalam perjalanan tadi ? manis yang mana dengan yang ada ini ?" maka air muka tamu tersebut langsung berubah,heran bercampur malu,karena hal yang dilakukannya dalam perjalanan rupanya diketahui oleh beliau.
beliau pernah diangkat sebagai penasehat badan pemulihan keamanan daerah kabupaten banjar sekitar tahun 1956 ketika terjadi pemberontakan Ibnu Hajar,setiap jum'ad beliau memberikan penerangan kepada masyarakat yang terpengaruh dengan adanya pemberontakan ini.
Tuan Guru KH.Zainal Ilmi pertama menikah dengan HJ.Purnama binti zakaria bin Abdullah bin KH.Muhammad Khattib bin Mufti Pangeran Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari namun tidak mempunyai keturunan.
menjelang wafat beliau banyak didapati keganjilan terhadap dirinya,namun tidak dimengerti oleh yang lainnya,seperti pada waktu ia hendak pergi ke Karang Intan dalam rangka berdakwah maka ia menyuruh seseorang untuk ketempat orang tua Istrinya yang muda,karena saat itu istri beliau sedang menginap dirumah orang tuanya beliau berpesan "Cepat pulang nanti tidak sempat " selain itu pula sebelum berangkat ke Karang Intan ia berkata "nanti banyak orang,nanti banyak orang."demikian perkataan nya itu yang kemudian berangkatlah beliau ke Karang Intan,setibanya di Karang Intan maka dalam acara tersebut beliau membaca doa yang kemudian beliau mendadak sakit sehingga menyebabkan wafatnya pada hari Jum'ad di Karang Intan tgl 13 Dzulqaidah 1375 H bertepatan dengan 21 Juni 1956 M jam 12.00 siang.
pada waktu beliau wafat saat itu sedang musim kemarau,tanah serta sungai menjadi kering,sehingga untuk dimakamkan di Kalampayan disamping makam orang tuanya mendapat kendala yang berarti,karena untuk ke Kalampayan harus melalui jalur sungai,sedangkan saat itu sungai dalam ke adaan kering,oleh karena itu banyaklah yang berinisiatif untuk memakamkan beliau ditempat lain seperti di Dalam Pagar,ada pula dari kalangan ABRI yakni Bapak Hasan Basri mengusulkan agar beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana ,karena beliau dianggap sebagai sesepuh angkatan bersenjata,oleh ahli waris beliau usulan tersebut diterima dengan senang hati disertai penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pihak yang mengusulkannya,namun ahli waris tetap menghendaki jasad mulia almarhum dimakam kan di Kalampayan berdekatan dengan Datuknya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
maka tak disangka dan tidak diduga pada malam sabtu hujan turun dengan derasnya sehingga sungai yang tadinya kering menjadi ber air hingga dapatlah di lalui oleh perahu serta rombongan sanak keluarga yang mengiringi jenazah Tuan Guru KH Zainal Ilmi al-Banjari,maka pada hari sabtu tanggal 14 Dzulqaidah 13 75 h dengan suasana yang penuh khidmat dan haru dilaksanakanlah pemakamannya disamping makam orang tuanya KH>Abdus Shamad di Kalampayan berdekatan dengan Datuknya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
"Ya ALLAH berikanlah kelapangan kepada beliau didalam kuburnya dan tempatkan lah beliau bersama kekasih -Mu Sayyidina Rasulullah SAW,limpahkan lah rahmat-Mu kepada seluruh keluarganya dan kumpulkanlah kami ,orang tua kami,guru guru kami ,dan seluruh orang orang yang mencintai beliau bersama orang orang sholeh sebelum kami amiiin Ya Robbal alamin.
akhirul kalam kalau ada kekurangan dalam penyampaian riwayat ini alfaqir mohon maaf ampun sebesar besarnya,wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.
~sumber ~Ulama berpengaruh kalimantan Selatan
KH.Zainal Ilmi dilahirkan pada malam sabtu jam 4.30 subuh tanggal 7 Rabiul Awwal 1304 H di desa Dalam Pagar Martapura ayahnya adalah Haji Abdus Shamad bin KH.muhammad Said Wali putra Aminah Binti KH.Syahabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari,ibunya bernama Hj.Qamariyyah,masa kanak kanak sampai tumbuh menjadi dewasa beliau berlimpahan ilmu dari keluarganya,tidak pernah beliau melakukan pekerjaan yang sia sia,sangat sopan santun,penyayang dan ber akhlaqul karimah,beliau selalu mengisi kesehariannya dengan belajar dan beribadah,memelihara waktu dan mengerjakan yang sunat sunat,menghindarkan diri dari perbuatan syubhat lebih lebih yang dilarang agama apalagi yang haram,guru guru beliau adalah para ulama dan wali dijamannya,dari masa mudanya inilah beliau mempersiapkan diri menjadi seorang ulama terkemuka.diantara para ulama yang menjadi gurunya adalah :
1.KH.Abdus Shamad yaitu orang tua beliau sendiri mula mula belajar ilmu arabiyyah,fiqih dan hadist selama kurang lebih 6 tahun
2.menuntut Munazharah yang lamanya kira kira selahzhah (sesaat)kepada KH.Muhammad Amin bin Qadhi H.Mahmud Pesayangan Martapura
3.Syeikh Abdurrahman Muda
4.KH.Abbas bin mufti H.Abdul Jalil
5.KH.Abdullah (led rad agama) bin KH.Muhammad Shaleh
6.Menuntut Munazharah pula selama Selahzhah (sesaat)kepada KH.KH.Muhammad Ali bin Abdullah al-Banjari
7.KH.Khalid Dalam Pagar Martapura
8.KH.Ahmad Nawawi Dalam Pagar Martapura
9.KH.Ismail Dalam Pagar Martapura ayah dari KH.Abd.Rahman Ismail mantan kepala DEPAG Kab.Banjar
10.KH.Ahmad Wali Kuin Banjarmasin (murid Haji Masaid Wali kakek dari guru KH.Zainal Ilmi
Dengan disertai pesan guru gurunya tersebut yaitu "Jika kamu berkehendak mula mula masuk fan ilmu nahwu atau fan fiqih atau fan usul yaitu mesti lebih dahulu mengetahui mabadi yang 'asyarah serta ta'rifnya supaya landang penglihatanmu."
menurut suatu riwayat beliau adalah Khalifah dari Mufti Syeikh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari Sapat Indra Giri Riau,karena ketika Mufti Syeikh Abdurrahman Shiddiq hendak berangkat ke Tembilahan riau beliau ditanya oleh seorang yang tua di kampung Dalam Pagar .
"siapakah pengganti guru dikampung ini kalau guru berangkat nanti ?.."
"Anang Ilmi penggantiku " jawab Tuan Guru Sapat sambil menepuk bahu Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,maka terperanjatlah beliau sembari menunduk mendengar keputusan sekaligus amanah dari Syeikh Abdurrahman Shiddiq kepadanya,hingga sejak itu Tuan Guru Haji zainal Ilmi selalu menunduk.
beliau mempunyai perawakan gemuk pendek yang menggambarkan bahwa iya mempunya himmah (semangat) dan cita cita yang tinggi ,tabah hati dan tawakkal bersipat akhlakul karimah,tawadhu,berjiwa sosial suka menolong faqir miskin wara' serta pemurah,selama hidupnya banyak yang mendapat santunan dari beliau termasuk janda janda tua,hal ini tidak diketahui orang kecuali orang orang kepercayaannya,baru setelah beliau wafat hal ini diketahui orang banyak.
diantara keramat beliau ...suatu saat beliau sedang mengajar dirumahnya,pada waktu itu banyak muridnya yang hadir,tiba tiba beliau mengatakan "kita berhenti sebentar".dan murid muridnya menyaksikan sang guru dalam kemasygulan,kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan melepaskan pakaiannya,lalu beliau mengambil dua buah timba untuk diisi air disungai didepan rumahnya,air tersebut kemudian dibawanya kejalan raya dan terus disiramkan beliau satu timba kesebelah kanan satu timbanya lagi kesebelah kiri,selesai melakukan hal tersebut beliau kemudian masuk lagi kedalam rumah dan bertemu dengan ibundanya
ibundanya pun lantas berkata "mengapa kamu siramkan air itu kejalanan,sedangkan kamu susah susah mengambilnya dari sungai,lebih bermanfaat air itu untuk mengisi tempat air yang kosong 'kata ibunya dengan penuh keheranan
kemudian beliau menjawab "kita menolong orang yang kesusahan bu yaitu orang yang sedang kebakaran
lalu ibundanya berkata lagi" apakah kebakaran ditengah jalanan.." hal tersebut diucapkan ibundanya beberapa kali,berselang 3 hari setelah kejadian yang diluar akal tersebut datanglah seseorang berkunjung kepada beliau dan berkata "guru kami sangat berterima kasih kepada guru ,dikampung kami terjadi kebakaran dan setelah membawa korban beberapa rumah penduduk kemudian ulun (saya) bertawasul dengan meminta pertolongan kepada guru,setelah itu guru saya lihat datang memberikan pertolongan denagn membawa dua buah timba dan menyiram kan air ke api tersebut,hingga api tersebut padam seketika,dan inilah keperluan saya ziarah kesini,sekedar menyampaikan ucapan terima kasih atas pertolongan guru kepada kami di kampung Sungai salai Margasari Rantau'' .
dilain waktu ada seorang desa ,yang mempunyai kebun durian,namun belum pernah menghasilkan buah,petani tersebut rupanya mempunyai hajat apabila kebun durian nya tersebut mengeluarkan buah maka akan diberikan kepada Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,dan ternyata pada tahun tersebut berbuah 3 buah saja,si petani tersebut tadi kebetulan tidak ada kesempatan memberikan secara langsung buah durian tersebut kepada beliau,maka ia terpaksa menitipkan durian tersebut kepada tetangganya yang kebetulan akan bersilaturrahmi kepada Tuan Guru Haji Zainal Ilmi,dalam perjalanan orang yang di amanahi tadi rupanya tidak berpikir panjang lalu dibelahnya sebuah dan dimakannya,sesampainya di martapura kemudian ia membeli sebuah durian sebagai ganti durian yang dimakannya,tak lama setelah itu barulah ia ketempat Tuan Guru H.Zainal Ilmi dan langsung menyerahkan ke 3 durian tadi,oleh Tuan Guru dua buah durian beliau ambil kemudian durian satu nya beliau belah dan beliau suguhkan kepada tamunya sambil berkelakar beliau berkata ," bagaimana rasanya dengan durian yang kamu belahi dan kamu makan dalam perjalanan tadi ? manis yang mana dengan yang ada ini ?" maka air muka tamu tersebut langsung berubah,heran bercampur malu,karena hal yang dilakukannya dalam perjalanan rupanya diketahui oleh beliau.
beliau pernah diangkat sebagai penasehat badan pemulihan keamanan daerah kabupaten banjar sekitar tahun 1956 ketika terjadi pemberontakan Ibnu Hajar,setiap jum'ad beliau memberikan penerangan kepada masyarakat yang terpengaruh dengan adanya pemberontakan ini.
Tuan Guru KH.Zainal Ilmi pertama menikah dengan HJ.Purnama binti zakaria bin Abdullah bin KH.Muhammad Khattib bin Mufti Pangeran Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari namun tidak mempunyai keturunan.
menjelang wafat beliau banyak didapati keganjilan terhadap dirinya,namun tidak dimengerti oleh yang lainnya,seperti pada waktu ia hendak pergi ke Karang Intan dalam rangka berdakwah maka ia menyuruh seseorang untuk ketempat orang tua Istrinya yang muda,karena saat itu istri beliau sedang menginap dirumah orang tuanya beliau berpesan "Cepat pulang nanti tidak sempat " selain itu pula sebelum berangkat ke Karang Intan ia berkata "nanti banyak orang,nanti banyak orang."demikian perkataan nya itu yang kemudian berangkatlah beliau ke Karang Intan,setibanya di Karang Intan maka dalam acara tersebut beliau membaca doa yang kemudian beliau mendadak sakit sehingga menyebabkan wafatnya pada hari Jum'ad di Karang Intan tgl 13 Dzulqaidah 1375 H bertepatan dengan 21 Juni 1956 M jam 12.00 siang.
pada waktu beliau wafat saat itu sedang musim kemarau,tanah serta sungai menjadi kering,sehingga untuk dimakamkan di Kalampayan disamping makam orang tuanya mendapat kendala yang berarti,karena untuk ke Kalampayan harus melalui jalur sungai,sedangkan saat itu sungai dalam ke adaan kering,oleh karena itu banyaklah yang berinisiatif untuk memakamkan beliau ditempat lain seperti di Dalam Pagar,ada pula dari kalangan ABRI yakni Bapak Hasan Basri mengusulkan agar beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana ,karena beliau dianggap sebagai sesepuh angkatan bersenjata,oleh ahli waris beliau usulan tersebut diterima dengan senang hati disertai penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pihak yang mengusulkannya,namun ahli waris tetap menghendaki jasad mulia almarhum dimakam kan di Kalampayan berdekatan dengan Datuknya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
maka tak disangka dan tidak diduga pada malam sabtu hujan turun dengan derasnya sehingga sungai yang tadinya kering menjadi ber air hingga dapatlah di lalui oleh perahu serta rombongan sanak keluarga yang mengiringi jenazah Tuan Guru KH Zainal Ilmi al-Banjari,maka pada hari sabtu tanggal 14 Dzulqaidah 13 75 h dengan suasana yang penuh khidmat dan haru dilaksanakanlah pemakamannya disamping makam orang tuanya KH>Abdus Shamad di Kalampayan berdekatan dengan Datuknya Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
"Ya ALLAH berikanlah kelapangan kepada beliau didalam kuburnya dan tempatkan lah beliau bersama kekasih -Mu Sayyidina Rasulullah SAW,limpahkan lah rahmat-Mu kepada seluruh keluarganya dan kumpulkanlah kami ,orang tua kami,guru guru kami ,dan seluruh orang orang yang mencintai beliau bersama orang orang sholeh sebelum kami amiiin Ya Robbal alamin.
akhirul kalam kalau ada kekurangan dalam penyampaian riwayat ini alfaqir mohon maaf ampun sebesar besarnya,wabillahi taufik wal hidayah assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh.
~sumber ~Ulama berpengaruh kalimantan Selatan
SYEKH TAMBUH ALY BIN SYEKH BAQIR ALFARISI RA
SYEKH TAMBUH ALY BIN SYEKH BAQIR ALFARISI RA
SEJARAH RINGKAS
SYEKH TAMBUH ALY BIN SYEKH BAQIR ALFARISI RA
PENYEBAR AGAMA ISLAM DI CONDRO PASIRIAN LUMAJANG
JAWATIMUR
Beliau adalah SYEKH TAMBUH ALY BEN SYEKHBAQIR (SYEKH SUBAKIR) bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy Asshohabi Rodliyallohu anhu waanhum ajmain.
Beliau dilahirkan tanggal 20 Romdlon 787 H. di Demak. Wafat 21 Syawal 1021 H. di Condro. Beliau pernah menuntut ilmu agama di Masjidil Haram Mekkah selama 10 tahun. Beliau siang puasa, baca Qur’an malam hari, dzikir malam LA ILAHA ILLALLOH dan membaca sholawat pada siang hari. Asal beliau dari Parsi atau sekarang dikenal dengan nama Iran. Thoriqot beliau thoriqoh MAGHROBIYAH.
Haremnya/istrinya Syeikhoh Ainun binti Alwy bin Abdurrahman Asyaibaniy, Dewi Condrowati/ Syahnur binti Ki Ageng Condro Bromojoyo, dan Ratih Wulandari/ Qomriya binti Kongmar De Kraaf. Putra-putrinya dari istri pertama Baqir, dari isteri kedua Muhammad, Hamdun dan Marwah, dan dari isteri ketiga Islamiyah, Abdussalam, Syamsiyah.
Wilayah da’wah beliau Lumajang dan sekitarnya. Perjuangannya menyebarkan agama Islam memberi pencerahan mengatasi kegelapan dan kemusyrikan masyarakat. Dengan keramatnya semua manusia dan hewan tunduk menuruti ajakan beliau dengan senang hati.
Demikian sejarah singkat dan riwayat hidup Syekh Tambu Aly bin Syekh Baqir Alfarisi RA.
NARA SUMBER: K.H. MACHIN (PASIRIAN), K.H.M RIDWAN (PASIRIAN), K.H. M TABRANI (TEMPEH), K.H.M MASHRAF (KUNIR), USTADZ AL HABIB ALY BEN MOHAMMAD/SYIHABUDDIN BEN ALWY, LUMAJANG.
SEJARAH RINGKAS
SYEKH TAMBUH ALY BIN SYEKH BAQIR ALFARISI RA
PENYEBAR AGAMA ISLAM DI CONDRO PASIRIAN LUMAJANG
JAWATIMUR
Beliau adalah SYEKH TAMBUH ALY BEN SYEKHBAQIR (SYEKH SUBAKIR) bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy Asshohabi Rodliyallohu anhu waanhum ajmain.
Beliau dilahirkan tanggal 20 Romdlon 787 H. di Demak. Wafat 21 Syawal 1021 H. di Condro. Beliau pernah menuntut ilmu agama di Masjidil Haram Mekkah selama 10 tahun. Beliau siang puasa, baca Qur’an malam hari, dzikir malam LA ILAHA ILLALLOH dan membaca sholawat pada siang hari. Asal beliau dari Parsi atau sekarang dikenal dengan nama Iran. Thoriqot beliau thoriqoh MAGHROBIYAH.
Haremnya/istrinya Syeikhoh Ainun binti Alwy bin Abdurrahman Asyaibaniy, Dewi Condrowati/ Syahnur binti Ki Ageng Condro Bromojoyo, dan Ratih Wulandari/ Qomriya binti Kongmar De Kraaf. Putra-putrinya dari istri pertama Baqir, dari isteri kedua Muhammad, Hamdun dan Marwah, dan dari isteri ketiga Islamiyah, Abdussalam, Syamsiyah.
Wilayah da’wah beliau Lumajang dan sekitarnya. Perjuangannya menyebarkan agama Islam memberi pencerahan mengatasi kegelapan dan kemusyrikan masyarakat. Dengan keramatnya semua manusia dan hewan tunduk menuruti ajakan beliau dengan senang hati.
Demikian sejarah singkat dan riwayat hidup Syekh Tambu Aly bin Syekh Baqir Alfarisi RA.
NARA SUMBER: K.H. MACHIN (PASIRIAN), K.H.M RIDWAN (PASIRIAN), K.H. M TABRANI (TEMPEH), K.H.M MASHRAF (KUNIR), USTADZ AL HABIB ALY BEN MOHAMMAD/SYIHABUDDIN BEN ALWY, LUMAJANG.
AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL DJUFFRI
AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL DJUFFRI
Tonggak Islam di Indonesia Timur
Setiap tahun setelah hari raya Iedul Fitri, persisnya 12 Syawwal, ribuan umat Islam dari berbagai daerah di kawasan Indonesia timur berduyun-duyun datang ke Palu, Sulawesi Tengah. Tujuannya, menghadiri acara haul (peringatan wafatnya) tokoh dan tonggak Islam di kawasan Indonesia Timur, Guru Tua Al-Alimul ‘Allamah Habib Idrus bin Salim Al Djufri. Di sanalah, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di Indonesia itu, dimakamkan.
Masyarakat Muslim Indonesia timur memang sangat sulit melupakan perjuangan gigih dari seorang Tuan Guru Habib Idrus bin Salim Al Djufri. Semangatnya untuk menebarkan Islam ke pelosok-pelosok daerah terpencil, sangat dirasakan. Tak hanya pelosok yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan kendaraan. Almarhum sering menembus daerah terpencil dengan menggunakan sampan untuk memberikan pencerahan akidah Islam dan bimbingan kepada umat Islam yang membutuhkan.
Habib Idrus muda memang gigih menimba ilmu agama. Pada usia 18 tahun ia telah hafal Alquran ditambah tempaan langsung ayahnya, Habib Salim Aljufri.
Setelah ayahnya wafat, ia diangkat menjadi mufti muda di Taris menggantikan sang ayah. Jabatan mufti yang disandangnya merupakan jabatan tertinggi di bidang keagamaan dalam suatu kesultanan.
Gaya dakwah Habib Idrus sangat halus dan simpatik, sangat berbeda dengan gaya gerak sejumlah ulama yang mengintroduksi gerakan di beberapa wilayah. Kendati Indonesia adalah negeri keduanya — ia memutuskan pergi dari negerinya dan meluaskan dakwah ke Indonesia tahun 1920. ia sangat menjunjung tinggi negeri ini. Orang akan teringat betapa kecintaannya kepada negerinya yang kedua ini dalam syairnya saat membuka kembali perguruan tinggi pada 17 Desember 1945 setelah Jepang bertekuk lutut, ia menggubah syair, Wahai bendera kebangsaan berkibarlah di angkasa; Di atas bumi di gunung nan hijau, Setiap bangsa punya lambang kemuliaan; Dan lambang kemuliaan kita adalah merah putih.
Warisan besar dan berharga yang ditinggalkan Guru Tua adalah lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Sampai saat ini Alkhairaat telah mengukir suatu prestasi yang mengagumkan. Dari sebuah sekolah sederhana yang dirintisnya, kini lembaga ini telah berkembang menjadi 1.561 sekolah dan madrasah.
Selain itu, Alkhairaat juga memiliki 34 pondok pesantren, 5 buah panti asuhan, serta usaha-usaha lainnya yang tersebar di kawasan Timur Indonesai (KTI). Sedangkan di bidang pendidikan tinggi, yakni universitas, Alkhairaat memiliki lima fakultas definitif dan dua fakultas administratif atau persiapan, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan Fakultas Kedokteran dengan 11 program studi pada jenjang strata satu dan diploma dua.
Kitab Tarikh Madrasatul Khiratul Islamiyyah karya salah seorang santri generasi pertama Habib Idrus, menyebut makna secara etimologis Alkhairaat berasal dari kata khairun yang artinya kebaikan. Semangat menebar kebaikan itulah yang diusung Guru Tua, julukannya.
Ia memancangkan tonggak Alkhaeraat selama 26 tahun (1930-1956). Ia membesarkan lembaga pendidikan yang didirikannya hingga pada akhirnya, tahun 1956, menjangkau seluruh wilayah Indonesia timur.
Pada tahun itu pula dilaksanakan muktamar Alkhairaat yang pertama, bersamaan dengan peringatan seperempat abad Alkhairaat. Dalam muktamar itu lahirlah keputusan penting, yaitu berupa struktur organisasi pendidikan dan pengajaran, serta dimilikinya anggaran dasar. Tonggak lembaga ini sebagai sebuah institusi modern terpancanglah sudah.
Periode selanjutnya adalah masa konsolidasi ide selama sembilan tahun yakni sejak 1956 hingga 1964. Guru Tua memberikan kepercayaan kepada santrinya yang terpilih yang diyakininya cukup andal dan memiliki spesialisasi kajian. Murid-murid pelanjut Guru Tua antara lain KH Rustam Arsjad, KH Mahfud Godal, yang ahli dalam bidang ilmu tajwid dan tarikh, serta KHS Abdillah Aljufri yang ahli dalam ilmu sastra Arab dan adab. Rustam menduduki posisi pimpinan pesantren karena keahliannya dalam bidang ilmu fikih dan tata bahasa Arab.
Madrasah Alkhairaat terus berkembang walaupun saat itu hubungan transportasi maupun komunikasi antara daerah belum selancar sekarang. Puncaknya, tahun 1964, Alkhairaat membuka perguruan tinggi Universitas Islam (Unis) Alkhairaat di Palu. Habib Idrus duduk sebagai rektornya.
Perkembangan perguruan tinggi ini tersendat tahun 1965. Perguruan tinggi ini dinonaktifkan. Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswinya ditugaskan untuk membuka madrasah di daerah-daerah terpencil. Ini sebagai upaya membendung komunisme, sekaligus melebarkan dakwah Islam. Pada tahun 1969 perguruan tinggi tersebut dibuka kembali dengan satu fakultas saja, yaitu Fakultas Syariah.
Pada tanggal 12 Syawwal 1389 H bertepatan dengan 22 Desember 1969 Habib Idrus bin Salim Al-Djuffri atau lebih dikenal Guru Tua wafat. 46 tahun beliau berkiprah di dunia dakwah dan pendidikan dengan mewariskan lembaga pendidikan yang terus berkembang hingga saat ini.
Setelah Guru Tua wafat, Alkhairaat menyempurnakan diri sebagai sebuah institusi modern yaitu dengan adanya Perguruan Besar (PB) Alkhairaat, Yayasan Alkhairaat, Wanita Islam Alkhairaat (WIA) dan Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) serta Perguruan Tinggi Alkhairaat, lembaga ini juga memiliki surat kabar mingguan (SKM) Alkhairaat
Tonggak Islam di Indonesia Timur
Setiap tahun setelah hari raya Iedul Fitri, persisnya 12 Syawwal, ribuan umat Islam dari berbagai daerah di kawasan Indonesia timur berduyun-duyun datang ke Palu, Sulawesi Tengah. Tujuannya, menghadiri acara haul (peringatan wafatnya) tokoh dan tonggak Islam di kawasan Indonesia Timur, Guru Tua Al-Alimul ‘Allamah Habib Idrus bin Salim Al Djufri. Di sanalah, penebar Islam asal Hadramaut yang menghabiskan separuh usianya di Indonesia itu, dimakamkan.
Masyarakat Muslim Indonesia timur memang sangat sulit melupakan perjuangan gigih dari seorang Tuan Guru Habib Idrus bin Salim Al Djufri. Semangatnya untuk menebarkan Islam ke pelosok-pelosok daerah terpencil, sangat dirasakan. Tak hanya pelosok yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan kendaraan. Almarhum sering menembus daerah terpencil dengan menggunakan sampan untuk memberikan pencerahan akidah Islam dan bimbingan kepada umat Islam yang membutuhkan.
Habib Idrus muda memang gigih menimba ilmu agama. Pada usia 18 tahun ia telah hafal Alquran ditambah tempaan langsung ayahnya, Habib Salim Aljufri.
Setelah ayahnya wafat, ia diangkat menjadi mufti muda di Taris menggantikan sang ayah. Jabatan mufti yang disandangnya merupakan jabatan tertinggi di bidang keagamaan dalam suatu kesultanan.
Gaya dakwah Habib Idrus sangat halus dan simpatik, sangat berbeda dengan gaya gerak sejumlah ulama yang mengintroduksi gerakan di beberapa wilayah. Kendati Indonesia adalah negeri keduanya — ia memutuskan pergi dari negerinya dan meluaskan dakwah ke Indonesia tahun 1920. ia sangat menjunjung tinggi negeri ini. Orang akan teringat betapa kecintaannya kepada negerinya yang kedua ini dalam syairnya saat membuka kembali perguruan tinggi pada 17 Desember 1945 setelah Jepang bertekuk lutut, ia menggubah syair, Wahai bendera kebangsaan berkibarlah di angkasa; Di atas bumi di gunung nan hijau, Setiap bangsa punya lambang kemuliaan; Dan lambang kemuliaan kita adalah merah putih.
Warisan besar dan berharga yang ditinggalkan Guru Tua adalah lembaga pendidikan Islam Alkhairaat. Sampai saat ini Alkhairaat telah mengukir suatu prestasi yang mengagumkan. Dari sebuah sekolah sederhana yang dirintisnya, kini lembaga ini telah berkembang menjadi 1.561 sekolah dan madrasah.
Selain itu, Alkhairaat juga memiliki 34 pondok pesantren, 5 buah panti asuhan, serta usaha-usaha lainnya yang tersebar di kawasan Timur Indonesai (KTI). Sedangkan di bidang pendidikan tinggi, yakni universitas, Alkhairaat memiliki lima fakultas definitif dan dua fakultas administratif atau persiapan, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan dan Fakultas Kedokteran dengan 11 program studi pada jenjang strata satu dan diploma dua.
Kitab Tarikh Madrasatul Khiratul Islamiyyah karya salah seorang santri generasi pertama Habib Idrus, menyebut makna secara etimologis Alkhairaat berasal dari kata khairun yang artinya kebaikan. Semangat menebar kebaikan itulah yang diusung Guru Tua, julukannya.
Ia memancangkan tonggak Alkhaeraat selama 26 tahun (1930-1956). Ia membesarkan lembaga pendidikan yang didirikannya hingga pada akhirnya, tahun 1956, menjangkau seluruh wilayah Indonesia timur.
Pada tahun itu pula dilaksanakan muktamar Alkhairaat yang pertama, bersamaan dengan peringatan seperempat abad Alkhairaat. Dalam muktamar itu lahirlah keputusan penting, yaitu berupa struktur organisasi pendidikan dan pengajaran, serta dimilikinya anggaran dasar. Tonggak lembaga ini sebagai sebuah institusi modern terpancanglah sudah.
Periode selanjutnya adalah masa konsolidasi ide selama sembilan tahun yakni sejak 1956 hingga 1964. Guru Tua memberikan kepercayaan kepada santrinya yang terpilih yang diyakininya cukup andal dan memiliki spesialisasi kajian. Murid-murid pelanjut Guru Tua antara lain KH Rustam Arsjad, KH Mahfud Godal, yang ahli dalam bidang ilmu tajwid dan tarikh, serta KHS Abdillah Aljufri yang ahli dalam ilmu sastra Arab dan adab. Rustam menduduki posisi pimpinan pesantren karena keahliannya dalam bidang ilmu fikih dan tata bahasa Arab.
Madrasah Alkhairaat terus berkembang walaupun saat itu hubungan transportasi maupun komunikasi antara daerah belum selancar sekarang. Puncaknya, tahun 1964, Alkhairaat membuka perguruan tinggi Universitas Islam (Unis) Alkhairaat di Palu. Habib Idrus duduk sebagai rektornya.
Perkembangan perguruan tinggi ini tersendat tahun 1965. Perguruan tinggi ini dinonaktifkan. Sebagian besar mahasiswa dan mahasiswinya ditugaskan untuk membuka madrasah di daerah-daerah terpencil. Ini sebagai upaya membendung komunisme, sekaligus melebarkan dakwah Islam. Pada tahun 1969 perguruan tinggi tersebut dibuka kembali dengan satu fakultas saja, yaitu Fakultas Syariah.
Pada tanggal 12 Syawwal 1389 H bertepatan dengan 22 Desember 1969 Habib Idrus bin Salim Al-Djuffri atau lebih dikenal Guru Tua wafat. 46 tahun beliau berkiprah di dunia dakwah dan pendidikan dengan mewariskan lembaga pendidikan yang terus berkembang hingga saat ini.
Setelah Guru Tua wafat, Alkhairaat menyempurnakan diri sebagai sebuah institusi modern yaitu dengan adanya Perguruan Besar (PB) Alkhairaat, Yayasan Alkhairaat, Wanita Islam Alkhairaat (WIA) dan Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) serta Perguruan Tinggi Alkhairaat, lembaga ini juga memiliki surat kabar mingguan (SKM) Alkhairaat
Langganan:
Postingan (Atom)






