Jumat, 13 April 2012

Tuan Guru KH. Muhammad Aini

KH. Muhammad Aini yang sudah lazim pula di kenal dengan sebutan nama tuan guru H. Ayan, lahir di Pematang Karangan pada menjelang subuh harin Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 1351 H atau pertepatan tahun 1933 M. ayahandanya bernama H. Ali bin H. Sanusi yang berasal dari Kampung Sungai Rutas, kecamatan candi laras selatan dan ibundanya bernama Basrah putri H. Badar yang berasal dari Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah.
Ia dilahirkan dari keluarga yang taat beragama dan sangat memperhatikan pentingnya pendidikan agama. Sehingga hal ini merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan agama, dan disiplin yang tinggi denganpenuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Meskipun kehidupan orangnya yang berada pada sebuah yang cukup terpencil dan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Mata pencaharian orang tuanya hanya sebagai petani, namun mereka mepunyai kawasan yang luas tentang arti pentingnya pendidikan terutama pendidikan agama.
1. Riwayat Pendidikan
Setelah tampak pertumbuhan bakat dan kecerdasannya terutama dalam hal pemahaman agama dan semangat yang tinggi untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Maka orang tuanya senantiasa meberikan dorongan dan dukungan untuk terus belajar guna mencapai pengetahuan ilmu agama yang tinggi. Ternyata apa yang diharapkan oleh orang tuanya agar anaknya menjadi orang yang berilmu dapat disikapi dan dipenuhi oleh Muhammad Aini. Hal ini telah terbukti menamatkan pendidikan, baik formal maupun non-formal, bahkan ia dapat menuntut ilmu sampai akhir hayat. Adapun pendidikan yang pernah ia tempuh adalah :
- Pendidikan Dasar (Volks School)
Volks School adalah lembaga pendidikan untuk tingkat dasar pada jaman penjajahan Jepang yang berada di kampung Pandahan sekitar ± 4 km dari kampung Pematang Karangan. Ia belajar di sekolah tersebut selama 3 tahun yang dimulai dari tahun 1942 sampai 1943.
- Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI)
Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI) merupakan lembaga pendidikan agama yang berada di kampung Tambaruntung. Ia menuntut ilmu di Madrasah ini selama 5 tahun mulai dari tahun 1945 sampai 1949. Seiring dengan kecerdasan dan bakatnya dalam permasalahan agama. Di samping belajar Madrasah Kulliyatul Mu’alimin, ia juga memperdalam ilmu agama seperti tauhid, fiqih, akhlaq, tasauf dengan datang ke rumah guru beliau.

Adapun guru-gurunya antara lain :
Tuan guru H. Abdullah Shiddiq, ia pernah bermukim dan menuntut ilmu agama di mesir selama ±10 tahun.
Tuan guru H. Hidayatullah, pendiri dan pengasuh Madrasah Kulliyatul Mu’alimin di Tambaruntung.
Tuan guru H. Bijuri, ia di samping sebagai guru juga adalah mertua Tuan guru H. Muhammad Aini.
Tuan guru H. Samsuni di Tambaruntung
Tuan guru H. Ali Mansur di Limau gulung Timba’an
Tuan guru H. Mahfuzh
Tuan guru H. Asy’ari di serawi
Tuan guru H. Asmuni di Tambaruntung
- Menuntut Ilmu Kepondok Pesantren Darussalam, Martapura
Setelah menamatkan pendidikan agama di Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI) di desa Tambaruntung selama 5 tahun, ia kemudian meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Menjalani pendidikan yang terpisah dengan kedua orang tua, bekal yang diberikan agar sedapat mungkin untuk mencukupi karena orang tua hanya sebagai petani.
Namun meski demikian, dengan niat yang tulus dan ikhlas, tekad dan kemauan yang keras untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dukungan orang tua serta do’a yang disampaikan, maka kendala pada waktu itu dapat dilalui dengan kesabaran dan tawakkal. Berkar sabar dan tawakkal itulah kesuksesan dapat diraih yaitu dengan menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura tersebut selama 6 tahun yang dimulai tahun 1950 sampai tahun 1956.
Ia dikenal sebagai seorang yang sangat dicinta denga ilmu, karena sejak kecil oleh orang tua ditanamkan sikap dan dorongan untuk terus menerus menuntut ilmu khususnya ilmu agama islam, baik secara formal maupun mengaji kepada guru-guru agama. Hal inipun ia lakukan tatkala menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, di samping menuntut ilmu secara formal di pesantren, ia juga memperdalam berbagai cabang ilmu dengan cara mendatangi guru-guru.
Adapun guru-guru yang pernah mengajarinya baik di Pondok Pesantren maupun di tempat guru selama menuntut ilmu si Martapura, antara lain:
KH. Semman Mulia
KH. Syarwani Abdan
KH. Husein Qadri
KH. Salman Djalil
KH. Salim Ma’ruf
Tuan guru H. Muhammad Ramli
Tuan guru H. Azhari/ guru Jahri
Tuan guru H. Salman Yusuf
Tuan guru H. Marzuki
10. Tuan guru H. Muhammad Nasrun Thahir yang merupakan guru dalam bidang qiraat al-Quran.
Selepas ia menuntut ilmu di pondok pesantren Darussala, Martapura ternyata bukan akhir kegemarannya dalam menuntut ilmu-ilmu agama. Ia secara rutin dan istiqamah mengikuti pengajian yang dipimpin oleh KH. Muhammad Zaini (guru sekumpul) putra Abdul Ghani putra Abdul Manaf putra Mufti H. Muhammad Khalid putra al-‘Alim al-‘Allamah Hasanuddin putra Syeikh Maulana Muhammad Arsyad al-Banjari, di samping mengaji kepada KH. Semman Mulia.
Selama kurun waktu 24 tahun beliau mengikuti pengajian agama yang dipimpin KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul) yakni mulai tahun 1976 sampai beliau mendekati akhir hayat. Beliau mulai mengikuti pengajian guru sekumpul yang dimulai dari lokasi di daerah Keraton Martapura sampai yang dilaksanakan di Mushalla ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura.
Sikap yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya ternyata sangat melekat pada kepribadiannya, sehingga tidak heran kalau ia sangat memperhatikan masalah pengaturan waktu yaitu kapan untuk keluarga, mengajar ilmu (dakwah) serta menuntut ilmu.
Lebih-lebih selama pada saat ia mengaji/berguru secara khusus kepada KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul) sekaligus yang memimpin rohaninya. Dalam suatu kesempatan ia pernah mengatakan “Alhamdulillah semangatku untuk menuntut ilmu tidak pernah berubah semenjak dulu hingga sampai ke usia tua, yang berubahhanya kondisi tubuh, kalau semangat malah semakin meningkat”.
Hal ini merupakan wujud dari pengalaman dari kandungan ajaran Rasulullah saw, seperti sabda Rasulullah, yang artinya : Tuntutlah ilmu dari buaian (ayunan) sampai ke liang lahat
Dari perjalanan waktu yang cukup panjang dalam menggali dan memperdalam ilmu begitu sarat dan banyak ilmu serta amalan beserta sanad-sanadnya yang ia peroleh dari KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul). Sehingga dengan penuh hormat dan tawadhunya terhadap guru-gurunya, ia sering mengatakan “Bahwa keadaan kehidupanku ini, Alhamdullah, semuanya berkat peguruan’ (guru-guru beliau)”.
Hal ini menunjukkan betapa besar rasa hormat, adab dan tawadhunya kepada guru-gurunya sehingga tidak heran pula beliau sangat disayangi dan dicintai oleh guru-gurunya. Bukti bahwa guru begitu sayang kepadanya adalah ketika ia menunaikan rukun islam yang kelima (naik haji) guru sekumpul seringa menyebut namanya padahal ia tidak berada di pengajian tersebut. Demikian juga ketika guru sekumpul masih hidup dan tuan guru H. Muhammad Aini sudah meninggal dunia, anak cucunya diundang ke kediaman guru sekumpul ketika hendak pulang, Guru sekumpul berpesan kepada anak tertua titip salam kepada Tuan guru H. Muhammad Aini (tuan guru H. Ayan)
2. Sikap Kepribadian
Seperti diketahui, setelah menamatkan pendidikan pada Pon-Pes Darussalam Martapura, ia kembali ke Kampung halaman membawa bekal ilmu yang cukup untuk menjalani kehidupan sebagai seorang petani disamping berhikmat dengan ilmu karena menurut beliau ilmu adalah untuk diamalkan dengan ikhlas bukan sebagai tujuan dan hujjah tetapi ilmu sebagai jalan untuk mencapai tujuan dan mendapatkan ridha Allah SWT, ia kawin dengan Hj. Siti Aminah putri H. Bijuri yang merupakan anak gurunya.
Dari perkawinan tersebut melahirkan 9 orang anak, yaitu:
- Tuan guru H. Ibrahim
- Hj. Rahmah
- Ustaz H. Muhammad Hasnan
- Ustaz H. Muhammad Syahminan
- Hj. Hamdanah
- H. Muhammad Thahir Zaki
- Hj. Rafikah
- Arfah
- Hj. Rajabiah
Figur KH. Muhammad Aini (guru Ayan) putra H. Ali sungguh mempunyai kehidupan dan kepribadian yang mengagumkan. Sebagi muballigh, dai terkenal sekaligus ulamaa-il ‘aamilin, ia mampu menjalin hubungan baik dan harmonis dengan siapa saja, baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat biasa.
Sebagai tokoh kharismatik, ia tidak pernah menginginkan kedudukan/menjadi pegawai atau pejabat di lungkungan pemerintahan. Namun beliau sangat mendukung kebijakan pemerintahan yang adil, baik dan benar. Begitu pula halnya dengan masalah politik, ia mampu bersikap netral dan beliau lebih memilih kedudukan non-formal sebagai tokoh ulama yang mengayomi semua kelompok dan golongan serta membawa masyarakat menuju khairal ummah.
Hal ini merupakan suatu pilihan sikap yang sangat berani, tegas dan konsekuen (istiqamah), dimana saat pemerintahan pada masa itu ada kecenderungan menjadikan ulama untuk kepentingan pemerintah dan politik. Di samping itu dalam beramar ma’ruf nahi munkar, ia selalu bersikap jujur apa adanya. Ia selalu mengatakan kalau yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Beliau juga mempunyai sikap yang sangat disiplin dan teguh memegang janji, ia sangat tidak suka didustai apalagi berdusta kepada orang lain.
Dari pergaulan, ia telah banyak memberikan contoh teladan karena dalam pergaulannya di masyarakat senantiasa membawa misi/tujuan tertentu untuk kemaslahatan masyarakat.
Sebagai ilustrasi (gambaran) suatu ketika ia pernah membaur dengan masyarakat mengadakan kegiatan permaian rakyat “bagasing”. Masyarakat bingung mengapa ia ikut bermain gasing, malah dalam suatu pengajian murid bertanya hukumnya dari sisi agama bermain gasing. Ia tidak menjawab karena tujuan untuk menjalin silaturrahmi masyarakat yang kurang harmonis masih berjalan dan diupayakan. Setelah masyarakat kembali dapat menjalin silaturrahmi dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah kondisi lapisan masyarakat, akhirnya apa yang dilakukannya bertujuan untuk kepentingan kemaslahatan umat.
Kejadian diatas merupakan bentuk dalam mengikuti orang-orang saleh tedahulu dalam berdakwah menyesuaikan kegemaran yang dilakukan oleh masyarakat pada waktu itu. Kalu Wali Songo berdakwah dengan wayangnya, maka ia mempererat dan memperkokoh kesatuan dan persatuan melalui kegiatan “bagasing”.
Pada sisi lain, dalam kehidupan bermsyarakat, ia dikenal dekat dengan masyarakat. Karena ia memang ingin dapat merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Sehingga tidak jarang juga melakukan apa yang dilakukan kebanyakan masyarakat seperti bertani, menagkap ikan dengan cara memancing, menjambih, mendandang serta mahalawit. Ini semua merupakan bentuk “riyadhah” dalam menapaki jalan para orang shaleh dan para ulama yang menghimpun antara syariat, thariqat dan haqiqat serta ma’rifat.
3. Usaha Pengembangan Syiar Islam
- Bidang Dakwah
Mayarakat Pematang Karangan sejak dahulu termasuk masyarakat yang religius (agamis). Sejak 10 tahun yang lalu di Pematang Karangan telah berlangsung Kegiatan “Babacaan” atau pengajian agama yang istilah sekarang disebut dengan majelis taklim yang dipimpin oleh tuan guru H. Bijuri putra Dalusman setiap hari Jum’at pagi yang bertempat di Mushalla (langgar) Darul Aman. Tuan guru H. Bijuri dengan penuh kesabaran membimbing masyarakat Pematang Karangan dan sekitarnya dengan berbagai macam ilmu agama seperti, tauhid, fiqih, dan tasauf.
Sekitar tahun 1968, tuan guru H. Bijuri berpulang kerahmatulah dalam usia ±80 tahun dan di makamkan di samping mushalla Darul Aman yang dibangunnya. Setelah meninggalnya tuan guru H. Bijuri, maka yang melanjutkan agar tetap terlaksana syiar islam dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap pentingnya pendidikan agama bagi keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu keggigatan “babacaan” di Pematang Karangan dilanjutkan oleh tuan guru H. Muhammad Aini atau yang lebih dikenal dengan sebutan tuan gur H. Ayam dan ia juga merupakan menantu dari tuan guru H. Bijuri.
Setelah berjalan beberapa tahun di bawah asuhan Tuan Guru H. Muhammad Aini (Tuan Guru H. Ayan) ini mengalami perkembangan dan berjalan sangat pesat. Pada awalnya ketika dipimpin oleh Tuan Guru H. Bijuri dilakukan setiap Jum’at pagi, pada masa Tuan Guru H. Ayan kemudian ditambah pada Jum’at malam untuk perempuan dan sabtu malam untuk umum yang didahului dengan pembacaan syair-syair mauled al-Habsyi.
Dalam perkembangannya memang beberapa kali terjadi perubahan waktu kegiatan, karena ia menyesuaikan dengan pengajian yang dipimpin oleh Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani) di Sekumpul, Martapura. Perubahan itu berlangsung beberapa kali seperti dilaksanakan pada rabu malam kemudian pada senin malam dan akhirnya dilakukan pada selasa malam.
Figur Tuan Guru H. Muhammad Aini (H. Ayan) dikalangannmasyarakat Pematang Karangan dan Kabupaten Tapin umumnya adalah merupakan ulama yang kharismatik. Sehingga pengajian yang dipimpin olehnya jumlah jemaahnya selalu bertambah banyak hingga mencapai puluhan ribu orang. Desa Pematang Karangan yang dulunya kurang dikenal, setelah adanya pengajian yang dilakukan oleh Tuan Guru H. Muhammad Aini ini makin dikenal bukan saja yang ada di Kabupaten Tapin, tetapi sampai Daerah Hulu Sungai. Beliau dalam memberikan pelajaran agama (pengajian) di samping di rumah dan mushalla Darul Aman, ia juga meluangkan waktu untuk memberikan pengajian agama secara rutin dan bergiliran dimana-mana tempat masyarakat yang menghajatkan baik di mesjid, mushalla atau di sekolah-sekolah.
Selain itu juga, ia sering mengabulkan hajat/undangan masyarakat untuk memberikan ceramah agama baik di mesjid, mushalla, madrasah/sekolah maupun di kantor-kantor pemerintah. Ia juga merupakan seorang da’i/ muballigh yang terkenal pada masa itu tidak saja di Kalimantan Selatan . tetapi juga di Kalimantan Timur dan di Kalimantan Tangah. Beliau aktif melaksanakan dakwah/tabligh akbar yang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya uktuk memberikan pencerahan/siraman rohani guna memantapkan keyakinan agama islam dan pengalamannya pada masyarakat.
Tempat yang dilakukan dalam kegiatan tabligh bukan saja di kota tetapi juga dilakukan di desa-desa bahkan sampai pelosok daerah terpencil sekalipun. Untuk mencapai tujuan ada yang menggunakan kendaraan bermotor, sepeda, perahu (kelotok) bahkan juga harus dilakukan dengan jalan kaki.
Ditengah kesibukannya memberikan pengajian dan berdakwah, ia juga tetap aktif memperdalam ilmu agama dan berguru kepada KH. Seman Mulia, Keraton, Martapura dan KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru Sekumpul). Setelah kurun waktu selama ± 17 tahun ia melaksanakan kegiatan dakwah umum untuk masyarakat, kemudian beliau menghadap KH. Seman Mulia untuk memohon petunjuk dan bimputragan sekaligus memperdalam ilmu agama.
Atas berkat nasehat KH. Seman Mulia yang mengatakan kepada Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali mengatakan : “ untuk memperdalam ilmu nyawa (kamu), maka nyawa (kamu) unda (aku) serahkan kepada Anang (panggilan kesayangan pada KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani sekaigus yang akan memimpin nyawa (kamu) dan nyawa (kamu) memberikan pengajian agama cukup di rumah dan di langgar (mushalla) saja.
Dengan demikian akhirnya Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali memutuskan dengan tulus ikhlas melaksanakan nasehat guru beliau tersebut. Mulai saat itu beliau tidak lagi melaksanakan pengajian agama di tempat-tempat lain, melainkan hanya memberikan pengajian di rumah dan mushalla di depan rumahnya. Kalau dilihat secara keseluruhan waktunya dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat selama ±45 tahun.
Melihat kiprahnya dalam menyampaikan pengetahuan mengenai agama merupakan sebagai generasi penerus perjuangan Rasulullah saw (waratsatul anbiya-i). ia membaktikan seluruh hidup secara konsisten (istiqamah) menetapi jejak sunah Nabi saw. Untuk pengembangan dakwah dan syiar islam serta berkhidmat dengan ilmu yang penuh keikhlasan, rajin, cermat, dan tanpa pamrih.
Segala niat, sikap dan amal ibadah perjuangan beliau, semoga Allah AWT senatiasa memberikan nilai positif dengan ganjaran tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin.

4. Bidang Pendidikan/Pendirian Pesantren
Sebagaimana diketahui bahwa Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali dikenal sebagai seorang yang sangat cinta dengan ilmu. Atas dasar kecintaanya dengan ilmu itulah yang melahirkan ide-ide/gagasan untuk mengembangkan syiar islam dan ilmu pengetahuan agama melalui Lembaga Pendidikan Islam. Hal ini juga melihat keadaan sosial keagamaan pada masyarakat Pematang Karangan dan belum adanya Lembaga Pendidikan Islam yang memadai kecuali Pon-Pes Darussalam di Martapura.
Ide/gagasan yang cemerlang tersebut disambut baik oleh adik iparnya Tuan Guru Abdul Jalil putra Tuan Guru H. Bijuri yang bermakam di dalam kubah samping mushalla Darul Aman pada tanggal 10 Agustus 1985/24 Zulqaidah 1405 H, mulailah direalisasikan ide tersebut oleh Tuan Guru H. Muhammad Aini uang didukung oleh Tuan Guru Abdul jalil. Dalam pendiria pesantren ini juga dibantu oleh Guru H. Abdullah, Guru H. Asnawi, Guru H. Ibrahim (anak), Guru H. Muhammad Hasnan (anak), Guru H. Abdul Khaliq dan H. Junaidi Naseri (menantu) beserta komponen masyarakat lainnya. Lembaga Pendidikan Islam tersebut diberi nama “Pesantren Sulubussalam” dan pada tahap awalnya menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat Madrasah Diniyyah Awwaliyah.
Pada s aat pertama dibuka dan belum mempunyai gedung sabagai tempat belajar, maka sementara meminjam tempat di Balai Desa Pematang Karangan. Namun berkat kegigihan beliau bersama panitia pembangunan yang didukung oleh komponen masyarakat serta pemerintah dalam waktu yang relatif singkat dapat dibangun dua buah ruang belajar santri. Seiring dengan perkembangan dan dinamika tuntutan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di pesantren ini disikapinya dengan mengembangkan secara terus menerus, baik segi fisik maupun sarana prasarana serta guru-guru pengajar.
Setelah berjalan selama 5 tahun sejak didirikan pada tahun 1985, perkembangan pesantren berjalan cukup pesat, hai ini denga kebanyakan santri yang sekolah di pesantren ini. Maka memenuhi serta tuntutan masyarakat akan perlunya lanjutan dari Madrasah Diniyah Awwaliyah, pada tahun 1990 dibuka jenjang pendidikan tingkat Madrasah Diniyah Wustho (3 tahun).
Alhamdulillah, kini pesantren Sulubussalam, Pematang Karangan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, diman apada tahun ajaran 2005/2006 santrinya berjumlah 2.152 orang yang didukung 33 orang guru dan fasilitas ruang belajar sebanyak 33 kelas. Kondisi ini tidak terlepas dari figur KH. Muhammad Aini putra H. Ali dengan ikhlas berjuang dengan tenaga, pikiran dan harta selaku pendiri, pimpinan sekaligus pengasuh. Hal ini juga tidak terlepas dari usaha kerja keras dari penerus kepemiminannya beserta komponen masyarakat dan pemerintah.
5. Berpulang Ke Rahmatullah
Pada saat usia Tuan Guru KH. Muhammad Aini putra H. Ali ± 67 tahun, ia mulai sakit-sakitan dan akibat sakit yang dialami sempat beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Sari Mulia, Banjarmasin. Kemudian pindah ke Rumah Sakit Umum Ulin, Banjarmasin. Setelah menglami perawatan di Rumah sakit beberapa hari, ia meminta untuk pulang ke Rantau, dalam perjalanan pulang menuju Rantau tersebut sampai Martapura ia menghembuskan nafas terakhir melepas roh yang suci, Inna lilahi wa inna ilahi raji’un.
Ia kembali menghadap ke hadirat Allah pada malam senin 21 Jumadil Awwal 1421 H/20 Agustus 2000 pukul 23.45 WITA.
Ia di makamkan di samping mushalla Darun Aman, desa Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah pada siang senin esok harinya sekitar pukul 15.30 WITA menjelang shalat Ashar.
Kini ulama yang ‘waratsatu an-biya’i’ tersebut telah tiada, namun meski demikian semoga kita dapat mewarisi semangat dan meneladani sikap kepribadian dan perjuangan beliau.
Semoga segala amal baik dan ibadah beliau diterima Allah dengan ganjaran maqom (tempat) yang mulia disisi-Nya. Serta kita semua senantiasa mendapat petunjuk, bimbingan dan ridho Allhan berkat kemuliaan beliau dan guru-gurunya. Amin ya Rambal’Alamin.
6. Keramat
Guru H. Muhammad Aini atau yang biasa disebut dengan Tuan Guru H. ayamn mempunyai kelebihan seperti :
- Apabila berkehendak dikabulkan oleh Allah SWT
Pernah tejadi ketika ingin menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kali, uang yang ada hanya cukup untuk satu orang saja sedangkan isterinya berkeinginan juga untuk ikut menunaikan rukun islam yang kelima. Pada waktu itu setor haji mendekati keberangkatan boleh saja melunasi tidak seperti sekarang harus setor duluan itupun harus menunggu beberapa tahun karena banyaknya masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji. Sementara menunggu setoran haji, rejeki yang didapat tidak terhingga datangnya, akibatnya dari rejeki yang diperoleh tersebut uangnya cukup untuk dua orang. Bahkan rejeki yang didapat itu cukup untuk bekal selama menunaikan ibadah haji.


- Kubur diziarahi Orang
Banyak masyarakan yang datang ke kuburnya untuk berziarah dan mengabulkan hajat serta memanjatkan do’a. orang yang datang ke kuburnya ada yang membawa kain kuning untuk diletakkan. Ada masyarakat yang datang membaca Yasin dan bertahlil, dan mereka yang berziarah bukan saja masyarakat yang ada di rantau melainkan juga mereka yang berasal dari luar daerah Tapin.
- Memberi Air Tawar (air yang diberi doa)
Masyarakat banyak yang datang ke rumahnya dengan berbagai macam keinginan dan permohonan, mulai dari masalah rumah tangga sampai kepada meminta air tawar dengan berbagai keperluan (hajat).
- Keperluan Haulan Melimpah
Setiap kali keluarganya akan mengadakan haulan untuk mengenang meninggalnya beliau yang setiap tahun diadakan haulan. Dalam pelaksanaan haulan tersebut pihak keluarga tidak terlalu repot memikirkan apa-apa yang diperlukan untuk haulan. Makanan yang akan diberikan kepada masyarakat merupakan pemberian dari masyarakat seperti sapi, beras serta bumbu-bumbu masakan.
Haulan yang dilakukan setiap tahun dibanjiri oleh masyarakat, bukan saja mereka yang datang yang berasal dari Kabupaten Tapin melainkan juga mereka yang datang dari luar Kabupaten Tapin.
- Hujan deras berhenti dengan mendadak
Ini adalah pengalaman admin Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan sendiri ketika berada di tempat beliau,waktu itu seperti kebiasaan masyarakat kabupaten tapin dan masyarakat banjar lainnya setiap malam malam ganjil terakhir bulan Ramadhan untuk melaksanakan Sholat hajat dan sholat Tasbih pada waktu sepertiga malam,saat itu yang berhadir sangat banyaknya,tanpa di sangka sangka ternyata malam itu hujan turun dengan sangat lebatnya,hingga banyaklah jamaah yang pulang hingga cuma tertinggal sekitar ratusan orang,saat itu paman admin sendiri berkata,"kita jangan pulang,kita tunggu saja sampai Abah Guru Keluar rumah,kita buktikan kalau beliau seorang ulama yang mempunyai keramat Insyaallah hujan akan berhenti dengan sendirinya,alhamdulillah Allah menjawab keraguan kami semua,tak lama sebelum waktu acara di mulai beliau keluar dari rumah tanpa memakai payung (padahal waktu itu hujan masih sangat lebat ),kami perhatikan beliau memandang ke arah langit,subhanallah...begitu beliau menjejakkan kakinya ketanah,hujan berhenti dengan tiba tiba,hingga acara bisa di laksanakan dengan lancarnya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar